Sejarah dan Perkembangan Sistem Kerja Perburuhan di Indonesia

Sejarah dan Perkembangan Sistem Kerja Perburuhan di Indonesia

Penulis : Hamonangan Albariansyah, SH, MH

Seiring dengan perkembangan politik dan hukum di Indonesia, pengertian yang mengacu pada suatu identitas terhadap orang yang bekerja dengan pihak lain, apakah itu badan hukum atau pun perseorangan juga mengalami pergeseran istilah, diawali dengan sebutan “budak” pada zaman Hindia Belanda hingga peraturan penghapusan budak dikeluarkan pada tahun 1854 hingga tahun 1860 istilah perbudakan resmi tidak digunakan di Indonesia, dalam masa yang sama pada masa jaya nya Hindia Belanda pada masa itu sekitar tahun 1807 pembangunan infrasruktur kemudian dilanjutkan dengan masa “penghambaan diri’ atau lebih dikenal dengan “Rodi” pada zaman Hendrik William Deandels yang terkenal dengan sistem kerja rodi nya atas rakyat Indonesia.

Pada kondisi ini, rodi sendiri dikerjakan para lelaki secara bersama-sama atau serentak terhadap suatu proyek pembangunan tertentu. Dimana Gubernemen atau pun “pembesar/pemuka” berupa tuan-tuan tanah maupun bangsawan  dalam barisan “strata elite” yang berhasrat membangun infarastruktur baik yang bersifat kedinasan berupa bangunan pemerintahan maupun bangunan pribadi, cukup memberikan Gulden atau sejumlah imbalan tertentu kepada Hoofdgeld atau uang kepala kepada petugas yang mengorganisir.  Inilah awal terbentuknya apa yang kita kenal saat ini dengan turunan (derifative) perkembangan perjanjian pemborongan dan sistem kerja Outsourcing (Alih Daya) saat ini.

Bila dibandingkan dengan sistem perbudakan, sistem kerja rodi ini sangat tidak manusiawi dirasakan para rodi, hal ini dikarenakan dalam sistem kerja rodi pekerja hanya bekerja tanpa menerima bayaran  harus menyediakan sendiri makanan, tempat tinggal dan kesehatan nya. Pihak yang punya kerja ( Gubernemen, pembesar/pemuka atau “strata elite“) hanya ingin proyek tersebut selesai. Sedangkan pada sistem perbudakan walaupun tidak wajar masih ada sedikit sisi manusiawi nya. budak masih mendapatkan makanan dan tempat tinggal dari majikan dimana dia bekerja.

Pada pertengahan abad ke-18 pemerintah Hindia Belanda mulai mempekerjakan sejumlah orang tertentu dengan mendapatkan upah, hal ini dilakukan semata-mata  untuk menguatkan posisi penjajahan Belanda atas daerah jajahannya terutama di Indonesia, selain itu juga mencegah masuknya pengaruh serta kepentingan negara penjajah lainnya. Adapun orang yang diberi upah seperti orang yang bekerja untuk kepentingan Gubernemen, pembesar dan kepala wilayah. Besarnya upah, jenis makan, kondisi tempat tinggal maupun macam pekerjaan di atur dalam perjanjian, walaupun demikian praktek penggunaan tenaga rodi dan budak masih dilaksanakan. Perihal ini diatur dalam “Koeli Ordonantie”, istilah Koeli (Kuli) sendiri mengacu pada pekerjaan yang hanya menggunakan tenaga kasar. dari Uraian diatas, dapat disimpulkan bawah di dalam pemerintahan Hindia Belanda terdapat 3 macam bentuk hubungan kerja, yaitu :

  1. Budak, orang yang bekerja secara individual dengan tidak memperoleh upah, namun mendapatkan makanan dan tempat tinggal dari majikannya ;
  2. Rodi, orang yang bekerja secara serentak atau komunal atas suatu pekerjaan tertentu dengan tidak memperoleh upah, tidak memperoleh makanan/minuman dan tidak memperoleh tempat tinggal.
  3. Koeli (baca Kuli), orang yang bekerja secara individul dengan menerima upah dan fasilitas lainnya berdasarkan perjanjian.

Menjelang berakhirnya kekuasaan Hindia Belanda seiring dengan kalahnya Belanda dari Amerika Serikat dalam Perang Pasifik, peraturan mengenai “Koeli Ordonantie” dihapuskan, namun istilah “Kuli”, masih diteruskan pada era penjajahan Jepang. Setelah Indonesia merdeka pada tanggal 17 Agustus 1945, bersamaaan dengan awal lahirnya penghargaan atas Hak Asasi Manusia (HAM), istlah kuli berganti dengah “Buruh” . Hingga dikeluarkannya UU No.13 tahun 2003 Tentang Ketenagakerjaan, istilah yang menunjukan status orang yang bekerja dengan orang lain disebut “Pekerja atau Tenaga Kerja”, walaupun demikian penggunaan istilah buruh masih digunakan sehari-hari dalam kehidupan berbangsa dan bernegara sampai dengan saat ini.

About these ads